TUGAS 1 : PERKEMBANGAN SISTEM INFORMASI di INDONESIA dan DUNIA
Nama : Dien Silmi Maulidyah
Kelas : 2KA18
NPM : 11118909
Nama : Dien Silmi Maulidyah
Kelas : 2KA18
NPM : 11118909
PERKEMBANGAN SISTEM INFORMASI DI INDONESIA
DAN DUNIA
Di era modern sekarang, Sebenarnya kita bisa mengatakan bahwa salah satu
peran sistem informasi adalah mengambil data dan mengubahnya menjadi
informasi, dan kemudian mengubahnya menjadi pengetahuan (knowledge).
Pengembangan sistem didefinisikan sebagai menyusun suatu sistem yang
baru untuk menggantikan sistem yang lama secara keseluruhan atau
memperbaiki sistem yang ada. Seiring perkembangan teknologi, peran ini telah berkembang menjadi
tulang punggung perusahaan. Terdapat 5 era sejarah sistem informasi, yaitu :
- Era pertama | mainframe and minicomputer
- Era kedua | personal computer
- Era ketiga | server network
- Era keempat | enterprise computing
- Era kelima | cloud Computing
Alasan Pengembangan Sistem :
- Adanya permasalahan-permasalahan yang timbul di sistem yang lama dan pertumbuhan organisasi.
- Meraih kesempatan.
- Adanya instruksi dari atasan atau luar organisasi, berupa perfomance, information, control, economoy, efficiency dan service.
Profesi Pada Sistem Informasi :
- Programmer
- Enterpreneur in IT Business
- System Analis
- Auditor Sistem Informasi
- Web Developer
- IS Project Manager
- Web Designer
- Webmaster
- Business Process Analyst
- Database Administrator
- Database Analyst
- E-Business Analyst
- ERP Specialist
- IS/IT Auditor
- IT Architect
- IT Asset Officer
- IT Consultant
- T Operation Officer
- Network Administrator
- Project Leader
- Web Content Specialist
Indonesian Digital Report 2019
Belakangan ini kata Industry 4.0 sering
digemakan oleh banyak orang. Akan tetapi, hingga saat ini masih banyak
masyarakat yang masih belum mengerti apa itu Industry 4.0 dan bagaimana
hal tersebut akan memberikan sumbangsih terhadap kemajuan Indonesia.
Istilah
Industry 4.0 pertama kali digemakan pada Hannover Fair, 4-8 April 2011.
Istilah ini digunakan oleh pemerintah Jerman untuk memajukan bidang
industri ke tingkat selanjutnya, dengan bantuan teknologi.
Mengutip dari laman Forbes,
revolusi industri generasi keempat bisa diartikan sebagai adanya ikut
campur sebuah sistem cerdas dan otomasi dalam industri. Hal ini
digerakkan oleh data melalui teknologi machine learning dan AI.
Sebenarnya, campur tangan komputer sudah ikut dalam Industry 3.0. Kala itu, komputer dinilai sebagai ‘disruptive’, atau bisa diartikan sesuatu yang mampu menciptakan peluang pasar baru. Setelah dapat diterima, saat ini machine learning dan AI ada di tahap tersebut.
Secara
singkat, Industry 4.0, pelaku industri membiarkan komputer saling
terhubung dan berkomunikasi satu sama lain untuk akhirnya membuat
keputusan tanpa keterlibatan manusia. Kombinasi dari sistem fisik-cyber,
Internet of Things (IoT), dan Internet of Systems membuat Industry 4.0 menjadi mungkin, serta membuat pabrik pintar menjadi kenyataan.
Di
Indonesia, perkembangan Industry 4.0 sangat didorong oleh Kementerian
Perindustrian. Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, agar
Indonesia dapat bersaing dengan negara lain di bidang industri,
Indonesia juga harus mengikuti tren.
“Revolusi
Industri 4.0 merupakan upaya transformasi menuju perbaikan dengan
mengintegrasikan dunia online dan lini produksi di industri, di mana
semua proses produksi berjalan dengan internet sebagai penopang utama,”
kata Airlangga.
“Kami
juga sedang mempelajari dari negara-negara lain yang telah menerapkan,
sehingga bisa kita kembangkan Industry 4.0 dengan kebijakan berbasis
kepentingan industri dalam negeri,” ungkapnya.
Airlangga
juga menyebutkan, sejumlah sektor industri nasional telah siap memasuki
era Industry 4.0. Beberapa di antaranya seperti industri semen,
petrokimia, otomotif, serta makanan dan minuman.
“Misalnya
industri otomotif, dalam proses produksinya, mereka sudah menggunakan
sistem robotik dan infrastruktur IoT,” kata Airlangga.
Lantas,
faktor penggerak apakah yang harus diperkuat untuk menyambut Industry
4.0 di Indonesia? Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan
Industri (BPPI) Haris Munandar menjelaskan, ada beberapa bidang yang
harus dipersiapkan.
Beberapa di antaranya adalah melakukan peningkatan otomatisasi, komunikasi machine-to-machine, komunikasi human-to-machine, AI, serta pengembangan teknologi berkelanjutan.
Lebih
lanjut, dia menyebutkan bahwa untuk melakukan implementasi, ada empat
dasar faktor penggerak. Pertama adalah peningkatan volume data, daya
komputasi, dan konektivitas. Harusnya juga adanya peningkatan kemampuan
analitis dan bisnis intelijen di Industri ini.
“Bentuk baru dari interaksi human-machine, seperti touch interface dan sistem augmented-reality juga
merupakan hal yang penting. Tak ketinggalan, pengembangan transfer
instruksi digital ke dalam bentuk fisik, seperti robotik dan cetak 3D,”
tegasnya.
Kemenperin
juga sudah mulai memberikan dorongan untuk mempersiapkan apa saja yang
dibutuhkan oleh pelaku industri. Mereka telah melakukan beberapa hal,
seperti pemberian insentif kepada pelaku usaha padat karya berupa
infrastruktur industri, melakukan kolaborasi dengan Kementerian
Komunikasi dan Informatika dalam optimalisasi bandwidth,
serta penyediaan Sistem Informasi Industri Nasional (SIINAS) yang
memudahkan integrasi data untuk membangun industri elektronik.
Tak ketinggalan, persiapan SDM industri melalui pendidikan vokasi yang mengarah pada high skill serta meningkatkan keterampilan SDM industri yang dominan low/middle ke level high skill juga telah dilakukan.
Lantas,
perusahaan mana yang sudah mengimplementasikan Industry 4.0 di
Indonesia? Ternyata, salah satu pabrik yang sudah mengadopsi langsung
adalah pabrik alat listrik asal Jerman yang ada di Indonesia, yakni PT
Schneider Electric Manufacturing Batam (SEMB).
Dalam situs resmi Kemenperin, kedua pihak melakukan kerjasama mengenai pengaplikasian teknologi Virtual Reality untuk
mengontrol kondisi mesin. Kerjasama ini dilakukan pada saat Airlangga
mengunjungi pabrik tersebut pada 16 November 2018 silam.
Di sisi lain, Telkomsel sebagai salah satu pihak enabler Industry
4.0 juga sudah siap mendukung terlaksananya hal tersebut di Indonesia.
Mereka akan menyediakan sistem IoT, melalui program Telkomsel Innovation
Center (TINC).
"Program
TINC merangkum berbagai kegiatan dalam membentuk ekosistem IoT
Indonesia, berupa penyediaan laboratorium IoT, program mentoring dan bootcamp bersama expertise di bidang IoT, serta networking access bagi para startup, developer,
maupun system integrator dengan para pemain industri terkait," ujar
Denny Abidin, General Manager External Corporate Communications
Telkomsel.
Telkomsel
pun mengembangkan layanan IoT yang bersifat lintas industri. Salah satu
contoh bidang yang sudah bekerjasama dengan mereka adalah di bidang
perbankan. Telkomsel menjadi mitra penyedia IoT connectivity dan IoT platform.
Begitu
juga di sektor transportasi, otomotif dan logistik. Mereka telah
menyediakan solusi IoT secara total. Tak ketinggalan, mereka juga
mempersiapkan diri untuk membantu industri yang bergerak di agriculture, aquaculture, environmental dan monitoring. Perusahaan berplat merah ini sudah menjadi penghubung, inkubator, serta akselerator.
Satu
hal lagi yang harus dipersiapkan oleh Pemerintah Indonesia untuk
menyongsong Industri 4.0. Salah satunya adalah melalui persiapan
hadirnya jaringan generasi kelima atau yang lebih dikenal sebagai
jaringan 5G.
Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara pun
dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa jaringan 5G memang
diprioritaskan untuk kebutuhan industri. Bukannya untuk pengguna
individual semata.
“Penerapan teknologi 5G awalnya untuk industri, mesin ke mesin. Bagaimana robot bisa menggantikan kendaraan forklift dalam mengangkat barang-barang, jadi aplikasinya untuk hal-hal ini bukan aplikasi untuk individu,” kata Rudiantara.
Hingga
saat ini, ada beberapa operator yang sudah mencoba jaringan 5G di
Indonesia. Sebut saja Telkomsel yang sudah melakukan uji coba pada saat
pagelaran Asian Games 2018, disusul XL dengan mengadakan tes jaringan di Kota Tua pertengahan tahun lalu.
Di sisi lain, Indosat telah
memperlihatkan bagaimana jaringan 5G dapat diterapkan dalam Industri
4.0. Dalam acara ulang tahun mereka yang ke-51 pada 21 September tahun
lalu, mereka telah menunjukkan bagaimana cara mereka bisa membantu
industri.
Kala itu, Menkominfo Rudiantara mencoba menggunakan headset AR yang
terhubung di jaringan 5G. Dengan menggunakan teknologi jaringan
tersebut, dia dapat mengontrol peralatan di dunia virtual tanpa adanya
gangguan lag jaringan.
“Industri
kita saat ini, di digital, ini luar biasa berubah cepat dan memang
dinamikanya luar biasa. Meski belum dipasarkan secara resmi, saat ini
teknologi 5G menjadi tren yang terus diupayakan agar dapat
diimplementasikan oleh semua operator telekomunikasi di dunia. Adopsi
teknologi 5G ini dilakukan untuk meningkatkan pengalaman pelanggan dan
industri,” katanya.
Data Tren Internet dan Media Sosial 2019 Indonesia
World Digital Report 2019
Akan Munculnya :
- Multiexperience
- Transparency dan Traceability
- The Empowered Edge
- The Empowered Edge
- AI Security
Data Tren Internet dan Media Sosial 2019 Dunia




Tidak ada komentar:
Posting Komentar