BUDAYA
➨ Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
UNSUR-UNSUR BUDAYA
⤥ Kesenian⤡ Sistem Teknologi dan Peralatan
⤥ Sistem Organisasi Masyarakat
⤡ Bahasa
⤥ Sistem Mata Pencaharian Hidup dan Sistem Ekonomi
⤡ Sistem Pengetahuan
⤥ Sistem Religi
Perbedaan Budaya Sunda dan Lampung
⭆ Salah satu contoh budaya yang berbeda adalah suku sunda dengan suku lampung. Ulun lampung adalah suku yang menempati seluruh provinsi Lampung dan sebagian provinsi Sumatera Selatan. Suku Sunda adalah kelompok etnis yang berasal dari bagian barat pulau Jawa, Indonesia, yang mencakup wilayah administrasi provinsi Jawa Barat, Banten, Jakarta, dan Lampung.

Budaya Lampung

Budaya Sunda
A. Rumah Adat
Rumah adat lampung yang sering disebut Lamban, Lambahana atau Nuwou. Lamban biasanya terbuat dari kayu an berbentuk rumah paggung. Sedangkan rumah adat sunda disebut dengan imah. Imah terbuat dari kayu dan berdinding bambu. Seperti halnya lamban, imah juga beratap ijuk. Imah juga berbentuk rumah panggung dengan tinggi kolong 0,5-1 meter, sedangkan tinggi kolong pada rumah adat lampung lebih tinggi.
Rumah Adat Sunda
B. Komunikasi
Di dalam komunikasi sehari-hari orang suku lampung menggunakan bahasa lampung, sedangkan suku sunda menggunakan bahasa sunda. Pada komunikasi tertulis, orang lampung menggunakan aksara kaganga, sedangkan suku sunda menggunakan aksara ngalagena.
C. Sistem Kekeluargaan
Suku lampung menganut sistem patrilineal, yaitu suatu masyarakat hukum, di mana para anggotanya menarik garis keturunan ke atas melalui garis bapak, bapak dari bapak, terus ke atas, sehingga akhirnya dijumpai seorang laki-laki sebagai moyangnya. Sedangkan suku sunda menggunakan Sistem Parental atau Bilateral, yaitu masyarakat hukum, di mana paraanggotanya menarik garis keturunan ke atas melalui garis Bapak dan Ibu, terus ke atas, sehingga dijumpai seorang laki-laki dan seorang perempuan sebagai moyangnya.
Kekerabatan Suku Lampung
Sistem Kekerabatan Suku Sunda
D. PernikahanSecara umum, alur pernikahan antara suku lampung dan suku sunda hampir sama. Di dalam adat lampung upacara yang dilakukan sebelum pernikahan antara lain nindai/nyubuk, nunang (ngelamar), yirok (ngikat), berunding (menjeu), sesimburan (dimandikan), betanges (mandi uap) dan berparas (meucukur). Selain itu, di tempat keluarga gadis dilaksanakan 3 acara pokok dalam 2 malam, yaitu Maro Nanggep, Cangget pilangan dan Temu di pecah aji. Sedangkan di Sunda upacara yang dilakukan adalah neundeun omong (berjanji), galamar/nyeureuhan (meminang), papacangan (tunangan), seserahan (menyerahkan), helaran (iring-iringan), ngeuyeuk seureuh (menyiapkan sirih pinang) dan siraman (memandikan calon pengantin). Perbedaannya terletak pada saat memandikan calon pengantin, pada adat lampung calon pengantin wanita mandi bersama dengan wanita-wanita lain, sedangkan pada adat sunda wanita dimandikan oleh ibu, nenek dan sesepuh wanita lainnnya.
Pada hari pernikahan, ijab kabul pada prosesi pernikahan adat lampung dilakukan di tempat pengantin pria, sedangkan pada pernikahan sunda dilaksanakan di tempat mempelai pria. Setelah pernikahan di dalam adat Sunda ada upacara nebus atau numbas yaitu selamatan, sedangkan di dalam adat lampung tidak ada.
Pernikahan Suku Lampung
Pernikahan Suku Sunda
E. Peradaban
Peradaban adalah memiliki berbagai arti dalam kaitannya dengan masyarakat manusia. Seringkali istilah ini digunakan untuk merujuk pada suatu masyarakat yang “kompleks”: dicirikan oleh praktik dalam pertanian, hasil karya dan pemukiman, berbanding dengan budaya lain, anggota-anggota sebuah peradaban akan disusun dalam beragam pembagian kerja yang rumit dalam struktur hirarki sosial. Istilah peradaban sering digunakan sebagai persamaan yang lebih luas dari istilah “budaya” yang populer dalam kalangan akademis. Dimana setiap manusia dapat berpartisipasi dalam sebuah budaya, yang dapat diartikan sebagai “seni, adat istiadat, kebiasaan/kepercayaan, nilai, bahan perilaku dan kebiasaan dalam tradisi yang merupakan sebuah cara hidup masyarakat”. Dalam sebuah pemahaman lama tetapi masih sering dipergunakan adalah istilah “peradaban” dapat digunakan dalam cara sebagai normatif baik dalam konteks sosial di mana rumit dan budaya kota yang dianggap unggul lain “ganas” atau “biadab” budaya, konsep dari “peradaban” digunakan sebagai sinonim untuk “budaya” (dan sering moral) Keunggulan dari kelompok tertentu. “Peradaban” dapat juga digunakan dalam konteks luas untuk merujuk pada seluruh atau tingkat
F. Hubungan antara manusia dengan negeri dan bangsanya
Hubungan antara manusia dengan negeri dan bangsanya, meneladani pandangan hidup orang Sunda, hendaknya didasari oleh sikap yang menjunjung tinggi hukum, membela negeri, dan menyuarakan hati nurani rakyat. Pada landasannya, tujuan hukum yang berupa hasrat untuk mengembalikan rasa perlakuan adil, yang bersifat menjadikan aman suasana, dan menjadikan aman solidaritas sosial dalam publik. Masalah ini dalam publik Sunda terpancar dalam ungkapan-ungkapan :- Kudu nyanghulu ka hukum, nunjang ka nagara, mupakat ka balarea (harus menjunjung tinggi hukum, berpijak kepada ketentuan negeri, dan bermupakat kepada kehendak rakyat.
- Bengkung ngariung bongkok ngaronyok (bersama-sama dalam suka dan duka).
- Nyuhunkeun bobot pangayon timbang taraju (memohon pertimbangan dan kebijaksanaan yang seadil-adilnya, memohon ampun).
Pamali bisa diartikan sebagai pantangan dari hal-hal yang menurut tradisi tak boleh dilakukan dengan cara sengaja. Jika hal tersebut dilakukan akan menyebabkan datangnya malapetaka atau kejadian tidak baik bagi yang melanggar. Di Sunda dikenal pula kalimat ceuk kolot baheula mah (kata orang dahulu mah) yang biasa mendahului kalimat larangan. Di sisi lain, sebagian masyarakat menggunakan kata pamali sebagai cara menakut-nakuti anak kecil. Pada zaman dahulu hal ini dilakukan supaya mereka tidak berani menentang perintah orang tua. Sebagai contoh : Ulah kaluar imah sareupna yang bermakna jangan keluar rumah saat menjelang malam atau magrib. Mitosnya berupa bisa diculik setan.
H. "SI CEPOT" yang mendunia
Dia adalah sosok paling populer di dunia Wayang Golek. Berasal dari Tanah Pasundan dan menyebar mulai dari daerah Cirebon hingga wilayah Banten. Pertunjukannya memakai boneka kayu sebagai properti. Kata golek memiliki dua makna yaitu kata kerja berarti mencari dan kata benda berarti boneka kayu. Pada umumnya, pola pagelaran menggunakan alur cerita pewayangan seperti cerita Ramayana dan Mahabharata dengan menggunakan bahasa Sunda. Maestro Wayang Golek, Alm. Asep Sunarya merupakan master wayang golek. Beliau amat terampil memainkan pewayangan beserta olah vokal yang disuarakan. Si Cepot pernah beraksi di Amerika dan beberapa negara Asia termasuk ASEAN. Sehingga namanya melanglang buana dikenal masyarakat luar negeri. Hal ini pun sekaligus memperkenalkan kekayaan Indonesia melalui kesenian suku Sunda.
Setiap suku memiliki beragam sejarah hingga kebudayaan yang menakjubkan. Oleh karena itu, tentu berkaitan erat dengan bagaimana masyarakat menjaga persatuan agar tidak berpecah belah. Hal tersebut dapat dengan cara melestarikan budaya setiap suku.Saling menghormati maupun saling menghargai seperti halnya yang diterapkan di suku Sunda dalam membangun hubungan kekerabatan antar sesama manusia. Tatar Pasundan yang mengedepankan “silih asih, silih asah, dan silih asuh” memiliki makna harus saling mengasihi, saling mengasah atau mengajari dan saling mengasuh.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar